Gangguan Jiwa dibagi menjadi 2 yaitu:
- Berat (Psikosis)
- Ringan (Neurosis)

Mengenal Gangguan Jiwa Berat dikenal juga sebagai SKIZOFRENIA dimana si penderita gangguan jiwa ini mengalami kemunduran dalam fungsi sebgai manusia. Kemunduran yang nampak meliputi:
- Fungsi peran (belajar atau pekerjaan)
- Fungsi hubungan sosial
- Penggunaan waktu senggang.
- Perawatan diri.

Proses Berpikir.
Cara berpikir penderita ini aneh dan keanehan itu nampak antara lain :
- Mendengar suara-suara (halusinasi)
- Ambivalensi.
- Terdapat waham.
- Alur bicara yang kacau (inkoherensi)
- Merasa diri tidak sakit.
- Merasa diri sendiri yang paling benar (egosentris)

Keadaan alam perasaan / suasana perasaan
Biasanya lebih peka dari orang normal/sehat, misal: mudah tersinggung, mudah marah, sensitif terhadap hal-hal yang kecil.


Tingkah laku
Tingkah laku kacau balau (eksaltasi). Ini jika penderita cepat mendapatkan pengobatan.
Tingkah laku mematung (stupor). Jika penderita terlambat mendapatkan pengobatan.


Kecerdasan.
Pada beberapa kasus terjadi potensi intelektual menurun bahkan rusak.

Beberapa penyebab gangguan jiwa
Teori hormonal
Teori kimiawi pada otak.
Teori keturunan.
Teori akibat stres

Gejala-gejala

Gejala-gejala yang umum dijumpai:
Adanya pikiran yang tidak wajar dan aneh, yang tetap diyakini (delusi / waham)
Melihat, mendengar / mengalami sesuatu yang tidak nyata (halusinasi)
Merasa pikirannya dapat diketahui atau dikendalikan orang lain (paranoid)

Pada tahap awal yang akut biasanya dijumpai keadaan :
Gaduh / gelisah
Pikiran yang kacau dan bicara yang sukar untuk dimengerti.
Seringkali ada rasa curiga yang berlebihan (paranoid)


Gejala-gejala lain yang sering terlihat:
Sering melamun, introvert.
Tidak ada perhatian terhadap keluarga dan lingkungan.
Emosi datar atau tidak wajat.
Tidak dapat merawat diri.
Berbicara atau tertawa sendiri.

Perawatan.
- Dirumah sakit : upaya yang terbaikuntuk penderita dengan gangguan gelisah dan kacau balau.
- Rawat jalan : untuk memulihkan keadaan penderita sampai taraf optimal dan mencegah jangan sampai kambuh kembali.
- Rehabilitasi : pada penderita yang sulit pulih ke kondisi optimal.

Pengobatan
Obat-obatan memegang peranan penting karena obat-obatan tersebut dapat mengatasi gejala atau mengendalikan gejala dan mencegah kekambuhan
Pada penderita skizofrenia memerlukan pengobatan jangka panjang.
Progam konseling dan rehabilitasi bertujuan supaya dapat dicapai hasil terapi yang lebih baik.

Kesembuhan.
Dengan pengobatan yang tepat, maka dapat diharapkan penderita gangguna jiwa dapat kembali kepada suatu kondisi yang lebih baik.

Sembuh sempurna.
Tanda-tanda:

- Tidak timbul gejala-gejala lagi
- Dapat berfungsi seperti semula, terutama fungsi pekerjaan atau fungsi belajar
- Dapat bergaul dengan masyarakat tanpa hambatan.
- Mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan kemampuan sendiri.

Sembuh sosial
- Gejala-gejala masih ada tetapi sudah berkurang banyak.
- Tidak dapat kembali seperti pada fungsi pekerjaan / fungsi belajar. Ada hambatan terhadap fungsi tersebut yang tidak berat.
- Pergaulan dalam masyarakat terganggu.
- Masih sering kambuh terutama ketika menghadapi masalah pribadi yang sulit..
- Masih membutuhkan perhatian dan pengawasan dari lingkungan, terutama dari pihak keluarga.

Tidak ada penyembuhan
- Gejala-gejala masih jelas terlihat dan banyak.
- Tidak dapat berfungsi kembali seperti semula (penderita tidak mampui lagi untuk belajar atau bekerja)
- Penderita tidak mampu bergaul dalam masyarakat.
- Penderita membutuhkan perawatan terus menerus di rumah sakit atau panti rehabilitasi kejiwaan.


Prognosis
Faktor-faktor yang mempeeburuk pronogsis SKIZOFRENIA antara lain:
- Adanya faktor gen atau keturunan.
- Adanya gangguan kepribadian sebelum menderita sakit
- Timbulnya penyakit sebelum usia 40 tahun.
- Gangguan berjalan secara perlahan / lama.
- Pada waktu terganggu kesadaran baik.
- Timbulnya tanpa didahului adanya stressor.
- Kambuh berulang-ulang.
- Terlambat mencari pertolongan.
- Kebal terhadap obat. Biasanya dialami oleh penderita yang tidak mengkonsumsi obat secara rutin.
- Intelegensi penderita rendah.
- Keluarga menolak adanya penderita di dalam lingkungan.

(dari berbagai sumber)